Kami Lebih Senang Sekolah

Posted by anton | Posted in


BATAM, TRIBUN-Siswa Sekolah dasar (SD) Swasta Hidup Baru I Batuaji kian resah. Mereka belum mendapatkan kejelasan kapan bisa kembali masuk sekolah. Padahal sebentar lagi, siswa akan menghadapi ujian sekolah.

Jesika (11), siswi kelas 5, tidak mau terlalu terganggu perseteruan antara guru dan yayasan. Bersama empat temannya, Jesika memilih belajar kelompok di rumahnya, Minggu (6/12).

Mereka belajar bersama mengelilingi meja di ruang tamu. Jesika dan teman-temannya khawatir pelajaran akan semakin terganggu. “Kami belajar kelompok, kami belajar IPA, kan bentar lagi ujian semester Om,” ujar Jesika.

Jesika adalah satu dari 440 siswa SD Swasta Harapan Baru I Batuaji yang telantar. Sebanyak 16 guru mogok kerja lantaran menuntut tindakan yayasan yang memotong gaji. Guru juga protes penurunan status dari guru tetap menjadi guru kontrak.

Senin (7/12), para siswa juga masih diliburkan. Rencananya guru dan orangtua akan melakukan pertemuan di Dinas Pendidikan Batam.

“Harus gimana kami belum masuk sekolah sampai hari ini, bentar lagi ujian, sekolah bermasalah, tapi kasihan juga guru mak, gajinya dipotong padahal gaji guru dikit,” ujar Jesika kepada ibunya.

Jesika sangat berharap, permasalahan itu segera ada jalan keluar. Sebagai siswa, Jesika merasa sangat sedih dan kasihan terhadap para guru.”Kami kasihan sama guru, karena gaji mereka katanya dipotong sekolah,”ujar siswa lainnya.

Sihombing, orangtua Jesika, sangat menyayangkan atas mogoknya para guru sekolah. Ia mengaku sangat kecewa terhadap pihak yayasan sekolah. “Kami selaku orangtua sangat menyayangkan dan kecewa kepada yayasan, kalau begini terus bagaimana nasib anak-anak kami, kami berharap yayasan agar segera dapat menyelesaikan masalah ini,” ujarnya.

Yunus siswa kelas 5, mengaku tidak mengerti masalah yang terjadi. Yunus hanya pasrah diliburkan oleh sekolah tersebut. “Saya tidak tahu masalahnya, selama ini belajar saya sih baik-baik saja,” Katanya.

Teman Yunus, Jamaris mengaku tidak suka kalau diliburkan tanpa sebab. “Saya lebih senang sekolah daripada libur. Katanya ada masalah dengan guru di sekolah,” ungkapnya yang mengaku juga tidak tahu apa-apa terhadap masalah ini.

Kekhawatiran juga dirasakan HS, orangtua siswa lainnya. HS khawatir perseteruan itu semakin mengorbankan nasib siswa. Bahkan HS sudah berniat untuk memindahkan anaknya jika konflik tersebut masih berlarut-larut.

“Saya tidak ingin anak saya jadi korbannya. Yang saya takutkan adalah kualitas belajar mengajar akan menurun. Memang hal itu mulai terasa saat ini,” ujarnya.

Dia mengatakan bahwa jam belajar sekolah saat ini sangat singkat. Guru juga jarang memberikan pekerjaan rumah. “Guru-guru berkualitas banyak yang keluar. Bahkan dalam setahun sudah ada tiga kali pergantian kepala sekolah,” ungkapnya. HS mengakui bahwa pihak yayasan ini tidak konsisten terhadap sikap mereka.

“Beberapa kali kita diundang untuk berdialog, namun malah mereka yang tidak datang,” ujarnya.

Julius Baka, Sekretaris Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Kepri menyayangkan perseteruan antara yayasan dengan guru.

“Yayasan harus bertanggungjawab dan masalah ini harus segera diselesaikan segera, sebab efeknya akan sangat merugikan yayasan sendiri. Jika merujuk pada Badan Hukum Pendidikan (BHP), sekolah ini bisa ditutup. Selain itu bisa menurunkan pamor sekolah itu sendiri,” kata Julius Baka.

Julius Baka mengatakan, BPMS bisa turut untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut jika sekolah yang bersangkutan telah terdaftar pada BPMS kota Batam. Namun, sebelum BPMS turun tangan, masalah tersebut terlebih dahulu diselesaikan di pada majelis pendidikan dimana sekolah tersebut bernaung.

Menurutnya, BPMS secara nasional telah mengusulkan kepada pemeritah agar dibentuk Mahkamah pendidikan. Usulankan BPMS ini sangat berkaitan dengan menjamurnya sekolah-sekolah swasta di Indonesia, sehingga persoalan-persoalan pendidikan seperti yang terjadi di SD Hidup Baru I Sagulung punya tempat penyelesaian.(elc/naz/san)

Comments (1)

    bagus Boss

Posting Komentar